Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Agama itu kebajikan

Semua umat beragama meyakini bahwa agamanya yang paling benar dan akan langgeng, sedangkan agama yang lainnya salah dan akan musnah. Ketika paradigma seperti ini yang berlaku, maka salah satu dampaknya adalah umat beragama saling bersaing untuk saling menjatuhkan. Maka umat beragama seringkali rentan dimanfaatkan sebagai pembenaran dan nafsu kekuasaan. Kemudian keberagamaannya oleh orang lain dirasakan tidak lagi rahmah, damai, teduh, tolerans dan tidak saling mendukung akan tujuannya.. Ketahuilah bahwa sebenarnya yang langgeng itu adalah kebenaran dan kebajikan itu sendiri, bukan agama. Karena agama adalah sarana, metode, strategi, pendekatan, nilai, spirit dalam mewujudkan kebenaran dan kebajikan itu secara lurus, tulus dan murni.

Agama itu rasa dan keteladanan

Agama itu rasa dan keteladanan.. Teman saya menyampaikan saya bahwa dia menang dalam berdebat tentang agama dengan lawan yang berbeda agama. Saya tanya "apakah lawannya lantas pindah agama?".  Dia jawab "tidak". Lantas untuk apa tujuan memenangkan debat..? Kita seharusnya ingat agama itu meliputi rasa, penghayatan, pengalaman dan kebajikan. Sementara berdebat seputar teori dan konsep yang akan selalu berubah dengan bertambahnya rasa dan pengalaman keagamaan. Tentu akan sulit berdebat tentang rasa. Jadi percuma mengajak mereka dengan berdebat yang isinya untuk menang menangan.  Apalagi disertai dengan saling menyudutkan, olok olokan dan perilaku ancaman dan arogansi. Lebih baik menunjukkan rasa itu atau keagamaan itu dengan keteladanan. Dan itu mulai dari anda.. agar sang lawan merasakan bahwa keteladanan anda yang lebih baik.. Kalau dengan cara ini tidak bisa maka yakini bahwa apapun agama yang kita pilih itu semua atas kehendak Tuhan bukan kehendak kita ...